News Room, Rabu ( 20/05 ) Buku-buku terjemahan memang sangat membantu melengkapi literatur kepustakaan kita. Apalagi mengingat kendala terbesar berkembangnya ilmu pengetahuan ialah masalah perbedaan bahasa.
Namun tidak setiap terjemahan sama dengan maksud penulis asal. Apalagi yang memprihatinkan saat dalam proyek terjemahan tersebut terselubung misi tertentu.
“Misi penerjemah itu harus kita waspadai. Karena, terkadang ada makna yang disesuaikan dengan pemahaman penerjemah sendiri. Apalagi kalau kemudian malah menghantam paham atau kelompok lain yang dianggap tidak sama,”kata salah seorang pemerhati buku di Sumenep, H. Ahmad Halimy, pada News Room.
Oleh karena itu, menurut H. Halimy paling sedikitnya ada 2 hal yang harus diperhatikan oleh para pembaca buku terjemahan.
Yang pertama ialah latar belakang orang yang menerjemahkan atau penerjemah. Hal itu juga meliputi pemahaman si penerjemah, keahliannya, dan sebagainya.
Kemudian yang ke dua mengenai isi buku terjemahan tersebut, yang di dalamnya meliputi kultur dan tradisi yang berbeda.
“Misalnya terjemahan dari Timur Tengah, yang isinya menerapkan amar makruf nahi munkar secara global. Nah, padahal kalau dalam pemahaman mayoritas ulama, hal tersebut tidak boleh jika dalam suatu amalan itu ada ikhtilaf. Misalnya Yasinan setiap malam Jumat, tidak boleh orang yang tidak setuju itu melarang. Karena banyak ulama yang membolehkan. Jadi, itu di antaranya yang harus dipahami dalam setiap buku terjemahan,”tutupnya. ( Farhan, Esha )