Media Center, Jum'at ( 23/02 ) Proses Islamisasi di Sumenep tidak bisa lepas dari peran ulama pendatang. Sejarah menyebut ulama pendatang itu merupakan pecahan dari keluarga Hadhramawt Yaman, melalui jalur Wali Sanga. Dalam buku Sejarah Sumenep, ulama yang pertama turun ke wilayah Sumenep ialah Sayyid Ali Murtadla, saudara tua Sunan Ampel. Namun di situ disebut turun ke Sepudi, yaitu pulau kecil yang menjadi bagian Kabupaten Sumenep sejak berabad-abad silam.
Sebutan Sepudi juga kabarnya berasal dari Sepuh Dewe, yaitu yang tertua. Mungkin itu di antaranya merujuk pada Sayyid Ali Murtadla yang merupakan anak tertua Sayyid Ibrahim Asmara.
Haji Abdurrahman, warga Sepudi menyebut kalau Sayyid Ali itu menurunkan Panembahan Blingi. Menurutnya Panembahann ini punya banyak nama. "Di antaranya Ario Pulang jiwo. Juga Wirokromo, " kata penjaga makam atau Asta Kramat Blingi ini.
Menurut keterangan di buku-buku yang membahas Sumenep awal, Panembahan Blingi ini masanya sejaman dengan Saccadiningrat II. Dengan demikian, beliau memang lebih dulu dari pada Sunan Paddusan yang menikah dengan cicit Saccadiningrat II. Sehingga mungkin perlu kajian lebih dalam untuk menegaskan bahwa Islamisasi Sumenep memang dimulai dari Sepudi.
"Adipoday anak Panembahan Blingi menikah dengan Saini alias Pottre Koneng anak Saccadiningrat II. Ini bisa ditarik asumsi bahwa Islam di Sumenep keraton masuk di masa ini, " kata R. B. Muhlis, pemerhati sejarah Sumenep pada Media Center, Jum'at (23/02).
Mengenai penguasa Sumenep yang bernama Panembahan Joharsari yang menurut cerita rakyat adalah leluhur Pottre Koneng, menurut Gus Muhlis perlu dilakukan kajian sejarah. Gelar panembahan memang gelar penguasa Islam. Namun, di masa itu pengaruh Majapahit masih kental. Meski penyebutan tahun dalam masa pemerintahan Joharsari juga sebenarnya masih dipertanyakan, " imbuhnya. ( M. Farhan, Fer )