News Room, Rabu ( 13/08 ) Suasana Lebaran Ketupat di lokasi wisata Pantai Bhatu Kurung di Desa Kalianget Timur Kecamatan Kalianget, berbeda dengan Lebaran Ketupat tahun-tahun sebelumnya. Rupanya masyarakat sekitar tidak ingin menyia-nyiakan keindahan alam Bhatu Kurung pada Lebaran Ketupat kali ini biasa-biasa saja. Namun, dengan adanya hiburan Kuda Saronen (Jaran Serek) serta orkes, pengunjung yang datang kesana makin membludak.
Salah seorang pengunjung Pantai Bhatu Kurung yang juga warga setempat, Reza Defriyanto kepada News Room, Rabu (13/07) mengaku sangat menikmati suasana Lebaran Ketupat di Pantai Bhatu Kurung. Sebab, dengan adanya fasilitas hiburan, bisa dikatakan suasana Lebaran Ketupat tidak jauh beda dengan suasana di tempat wisata Pantai Lombang, Slopeng, Ponju’ maupun suasana di Gili Labak.
“Masyarakat sekitar yang sudah mendengar akan adanya hiburan, banyak menghabiskan waktu di Pantai Bhatu Kurung ini, seperti saya dan teman-teman kampung lainnya,”ungkap pemuda tinggi besar ini.
Defri panggilan akrab pria yang mengaku bekerja di Jakarta ini, mengaku sangat menikmati suasana lebaran ketupat di Bhatu Kurung. Dirinya mengaku lebih bangga memilih Desa sendiri untuk dijadikan tempat hiburan pada Lebaran Ketupat tahun ini. Sebab, pergi ke tempat-tempat yang jauh dari rumah juga mengkawatirkan dengan kepadatan kendaraan di jalan.
Hal yang sama juga diungkapkan Nur Hidayah, salah seorang warga Kecamatan Kota Sumenep, yang mengaku memilih Pantai Bhatu Kurung sebagai tempat alternatif merayakan Lebaran Ketupat, karena selain nuansa alamnya yang sejuk, juga sebagai tempat silaturrahmi bersama keluarganya yang ada di Kecamatan Kalianget.
“Sekali dayung dua pulau terlampaui, selain bisa silaturrahmi kupatan disini ternyata juga cukup ramai dengan hiburan yang tidak kalah dengan tempat wisata lainnya,” tandasnya.
Dari pantauan News Room, sejak pagi hingga siang hari pengunjung wisata Bhatu Kurung semakin ramai. Bahkan, anak-anak yang ingin naik Jaran Serek sampai antri, sayangnya kuda yang dinaiki dengan iringan musik saronen hanya dua ekor, sehingga petugas kewalahan melayani pengunjung yang banyak berminat naik kuda. ( Ren, Esha )