News Room, Jum’at (11/09 ) Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriyah, para tukang penyepuh emas kebanjiran order hingga mencapai 150 buah emas dari berbagai jenis, baik itu anting, cincin, serta gelang. Jumlah ini naik 50 persen, dibandingkan para hari-hari biasanya. Bila pada hari biasa hanya 30 hingga 40 buah emas dari berbagai jenis yang akan dibersihkan agar mengkilap. Namun, sekarang setiap harinya mampu antara 100 hingga 150 perhiasan emas. Menurut salah seorang tukang penyepuh emas yang mangkal di Jalan Manikam, Sumenep, Arifin, kenaikan order menyepuh emas ini sudah biasa terjadi setiap tahun jika mendekati lebaran. “Makanya, perhiasan emas yang disepuh tiap harinya naik 50 persen, atau rata-rata seratus lebih,â€Âterang Arifin, pada wartawan, sambil menyepuh emas pesanannya, Jum’at (11/09). Ia menjelaskan, emas yang biasanya disepuh mempunyai kadar 22 karat. Sebab, jika kurang dari 22 karat, maka sulit untuk dikilapkan. “Biasanya yang datang untuk menyepuh emas perhiasan mayoritas kelas ekonominya menengah kebawah. Karena, kalau orang mampu, terbiasa beli emas 23 karat lebih, sehingga tidak perlu disepuh,†ujarnya. Kebanyakan para tukang penyepuh emas, hanya bermodalkan lapak kayu sepanjang setengah meter untuk tempat peralatan penyepuh. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk menuaikan (menyepuh) warna emas antara lain serbuk emas, tawas, tabung kecil, bensin, garam, sendowo, air meneral serta alat lain seperti stang, dan obeng kecil. “Kalau sudah disepuh, warnanya tua mengkilap, sehingga kalau dipakai ada nuansa berbeda. Bahkan, jika akan dijual harganya lebih mahal. Sebab, mirip emas yang baru dibeli,â€Âungkapnya. ( Nita, Esha )