Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 31-05-2021
  • 351 Kali

Ke Raga, dan Awal Mula Sebutan Pragaan (1)

Media Center, Senin ( 31/05 ) Menjadi tapal batas Sumenep dengan kota Gerbang Salam alias Pamekasan, Pragaan lantas menjadi kawasan penting dalam peradaban Sumenep sejak suatu masa.

Dewasa ini, Pragaan telah ditetapkan menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, Madura. Lokasinya berada di ujung barat sisi selatan kota ujung timur nusa garam ini.

Selain menjadi nama kecamatan, Pragaan juga menjadi nama desa yang dimekarkan menjadi Pragaan Daya dan Pragaan Lao’ (Laok).

Sejarah nama Pragaan tidak banyak yang tahu. Apalagi, literatur Sumenep tempo doeloe tidak banyak menceritakan asal mula sebutan tempat.

Namun dari hasil penelusuran beberapa pecinta sejarah, seperti salah satunya Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser), nama Pragaan diketahui memiliki kaitan erat dengan salah satu tokoh Sumenep di abad 18. Kiai Ragasuta namanya.

Nama Kiai Ragasuta memang masuk kategori nama-nama tokoh yang tidak populer dalam penulisan sejarah awal Madura Timur. Beruntung, dalam sejarah lisan, nama itu masih memiliki penutur, khususnya di kalangan keluarga tertentu.

“Menurut riwayat sesepuh di Sumenep, Kiai Ragasuta dianggap menjadi cikal bakal nama Pragaan. Diambil dari panggilan Kiai Ragasuta, yaitu Ke Raga (Kiai Raga; red),” kata Iik Guno Sasmito, salah satu penutur riwayat sang tokoh, beberapa waktu lalu.

Iik yang juga anggota Komunitas Ngoser, bersama salah satu rekannya, Ja’far Shadiq, beberapa tahun silam menemukan tempat peristirahatan terakhir Ke Raga. 

Lokasinya berada di utara jalan raya Sumenep-Pamekasan, dan masuk kawasan Pragaan Laok.

“Sekitar 5 sampai 7 meter dari jalan raya. Makamnya masih original. Prasasti di nisan juga masih utuh. Hanya sayang kurang perawatan,” kata Iik.

Sementara menurut Ja’far, selama sebelum ditemukan Komunitas Ngoser, makam Ke Raga atau Kiai Ragasuta tidak banyak orang yang tahu. Bahkan di masa sekarang bisa dipastikan tidak ada yang tahu. “Mungkin karena anak cucu Kiai Ragasuta kembali ke Sumenep,” katanya.

Dari keterangan Iik, Kiai Ragasuta memang berasal dari Sumenep, yang ditempatkan sebagai pembesar di daerah yang kini bernama Pragaan. “Beliau mendapat tanah perdikan,” katanya.

Tanah perdikan merupakan kawasan di masa keraton yang masuk kategori bebas pajak. Bisa ditebak, sosok Kiai Ragasuta tentu bukan sekadar pejabat keraton biasa.

Pejabat-pejabat yang ditempatkan di wilayah perdikan umumnya masih merupakan keluarga sentana keraton yang disegani.

Di salah satu catatan kuna Sumenep, yang disusun R. P. Moh. Saleh Pamolokan, Kiai Ragasuta merupakan Demang Pragaan.

Dalam catatan kuna lain, seperti di catatan K. R. B. Moh. Mahfudh Wongsoleksono, Wedana Kangayan; istilah lain Demang ialah Kepala. Setingkat wali wilayah atau wali kota jika sekarang.

Menurut catatan keturunannya, Kiai Ragasuta disebut sebagai keturunan Pangeran Mandaraga atau Mandiraga. Catatan yang disimpan oleh kerabat Iik di atas, menyebut sang tokoh bersusur galur ke keluarga Jawa Barat.

Di catatan itu juga disebutkan bahwa Kiai Ragasuta mempunyai anak yang bergelar sama, yaitu Kiai Ragasuta II. Makam sang putra diceritakan berada di Asta Jeruk Purut, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. (Han)