Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 03-08-2015
  • 2116 Kali

Kebunagung Dan Situs Sejarah Tersembunyi Didalamnya

News Room, Selasa ( 04/08 ) Selama ini, orang tahunya Desa Kebunagung identik dengan situs Asta Tinggi. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh lagi, Desa Kebunagung menyimpan peta situs-situs penting yang selama ini terpendam, dan perlu digali lebih dalam. Kejayaan-kejayaan masa lalu sekaligus informasi sejarah yang selama ini belum terurai, banyak tersimpan di Desa ini.

“Sebut saja, lokasi Asta Tumenggung Yudanegara (Judhanaghara), Asta Kangjeng Kiyai Adipati Semarang (Suroadimenggolo V), Asta Raden Saleh (Raden Adipati Pringgoloyo), Asta Pangeran Leknan Muhammad Hamzah, Asta Raden Ardikusumo I, Asta Patih Angabehi Mangundireja, Asta Qadhi (penghulu) Zainal Abidin, dan asta yang terus menjadi kontroversi publik; yaitu Asta Pangeran Diponegoro,”kata pemerhati sejarah di Sumenep, Rabiatul Adawiyah, S.Pd, pada News Room.

Menurut Rabiatul, di buku-buku atau literatur umum mengenai wisata religi Sumenep, sebagian nama-nama di atas memang sempat disebut. Tapi biasanya memang tanpa keterangan lebih lanjut. Sebut misalnya mengenai keberadaan Asta Kangjeng Kai atau Kiyai Adipati Semarang (Raden Adipati Ario Suroadimenggolo V) di area Asta Tinggi. Bagi pengunjung asta atau pembaca buku literatur peta Asta Tinggi, tentu akan dihinggapi pertanyaan, siapa gerangan tokoh ini ? Mengapa Adipati Semarang di Jawa Tengah sana sampai dimakamkan di Sumenep plus sebagian besar anggota keluarga beliau ?  

“Memang ada sedikit keterangan bahwa beliau adalah mertua Raja Sumenep, Sultan Pakunataningrat sekaligus saudara sepupunya. Keterangan lain di pintu gerbang makam ada wasiat Sultan agar lebih dulu menziarahi beliau sebelum Sultan dan sesepuh yang lain,”tambahnya.

Kangjeng Kiyai Adipati Suroadimenggolo V merupakan Adipati Semarang yang memerintah sekitar awal 1800-1825. Lebih dari itu, kedudukan beliau di masanya merupakan Adipati Wadhono atau Hoofd Regent. Adipati yang membawahi beberapa Kadipaten.

Dalam beberapa literatur, beliau dikenal sebagai Kangjeng Terboyo. Seorang Adipati yang memiliki wawasan keilmuan luas dan menguasai berbagai disiplin ilmu serta kebudayaan tanah Jawa. Beliau memiliki 40 orang putra-putri, yang satu diantaranya seorang jenius bernama Raden Shaleh (kelak Raden Adipati Pringgoloyo, Patih Sultan Sumenep).

Kangjeng Kiyai juga memiliki keponakan sekaligus anak angkat yang juga bernama Raden Shaleh, pelukis legendaris yang memiliki nama asli Sayyid Shaleh bin Alwi Bin Yahya. Pada saat meletus perang Jawa atau perang Diponegoro, peran Kangjeng Kiyai sangat besar.

Diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro sering bertandang ke Semarang secara sembunyi-sembunyi untuk menyusun siasat perang dan meminta buah pemikiran Kangjeng Kiyai. Bahkan, putra Kangjeng Kiyai yang bernama Raden Shaleh alias Raden Ario Notodiningrat (Bupati Lasem) secara terang-terangan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Namun, gerakan ini terbongkar. Akhirnya Kangjeng Kiyai dan Raden Shaleh ditangkap untuk selanjutnya ditawan di atas kapal perang Pollux. Peristiwa ini terdengar oleh Sultan Sumenep. Sultanpun menjamin beliau berdua dan memberikan suaka.

“Tokoh-tokoh lain selain Kangjeng Kiyai, juga banyak yang masih belum diketahui secara lengkap mengenai riwayat hidupnya. Semisal Patih Angabehi Mangundireja, juga penghulu Raden Ardikusumo I, penghulu Zainal Abidin dan lain sebagainya. Begitu juga dengan Pangeran Leknan (putra Sultan), padahal prasasti-prasasti di asta-asta para pembesar negeri Sumenep masa lalu itu rata-rata masih utuh,”tutup Rabiatul. ( Farhan, Esha )