Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 07-12-2012
  • 455 Kali

Kementerian Dikbud Tetapkan Tema Pertama Untuk SD

News Room, Jumat ( 07/12 ) Uji publik Kurikulum 2013 belum tuntas. Tetapi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah menetapkan tema pertama untuk siswa kelas I Sekolah Dasar (SD). Dengan penetapan tema itu, urusan nama mata pelajaran tidak menjadi prioritas di jenjang SD. Dalam paparannya kemarin (06/12), Mendikbud, Mohammad Nuh menuturkan, tidak perlu dipersoalkan jika Kementeriannya sudah menentukan tema pelajaran SD, meski uji publik masih berjalan. “Nanti (setelah uji publik, Red.) perubahan tidak terlalu signifikan”kata Menteri asal Surabaya tersebut. Nuh menjelaskan, pembelajaran di SD akan berjalan dengan menggunakan tema-tema tertentu. Setiap tema itu nanti bercampur dengan seluruh mata pelajaran yang diajarkan ke siswa. Dengan demikian, siswa tidak lagi terbebani oleh buku yang banyak. Para siswa hanya membawa satu buku sesuai dengan tema yang ditetapkan. “Tema pertama untuk kelas I SD sudah kita tetapkan. Temanya, Diriku; Jujur, Disiplin dan Bersih,”tutur Nuh. Dalam tema tersebut, para guru kelas akan menjabarkan muatan-muatan mata pelajaran lain. Diantaranya, Matematika, Bahasa Indonesia, PPKn, IPA, dan IPS. Itu sekaligus menepis anggapan bahwa muatan mata pelajaran IPA dan IPS dihapus di jenjang SD. “Secara namanya, mungkin ia nanti tidak ada. “Tetapi, secara substansi (IPA dan IPS, Red.) tetap diajarkan ke siswa,”jelas mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu. Menurut Nuh, setiap tema tertuang dalam satu bukti. Setiap tema rata-rata berdurasi 3 hingga 4 pekan saja. Kemudian dilanjutkan tema-tema yang ditetapkan Kemendikbud berikutnya. Dia mengatakan, mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran dalam satu tema di jenjang SD tidak sulit. Sebab, pada jenjang itu berlaku guru kelas. Melalui sistem tematik integratif tersebut, Nuh juga menegaskan tentang sistem baru pengadaan buku pelajaran. Menurut dia, para guru nanti dipegangi buku panduan induk (buku babon) untuk pendidik dan peserta didik. Nuh juga menegaskan, konten dari buku babon itu ditetapkan Kemendikbud. Pihak penerbit hanya berwenang menggandakan. Nuh berjanji tidak melepas kurikulum tersebut begitu saja. Dia mengatakan tetap akan mengawal para guru untuk menjalankannya. Cara itu diambil, karena kecenderungan selama ini para guru tetap menjalankan pengajaran yang sama, meski kurikulumnya berubah-ubah. ( JP, Ingun, Esha )