News Room, Jumat ( 08/05 ) Dalam agama Islam, guru merupakan simbol ilmu yang sangat utama. Tradisi sanad (sandaran) ilmu agama diperankan oleh seorang guru, sehingga dalam tradisi ulama salaf, tiada ilmu tanpa sanad. Guru juga merupakan penuntun bagi sang murid untuk menemukan jalan kebenaran. Oleh sebab itu, guru memiliki beberapa syarat yang harus dimiliki.
“Salah satunya ialah tawadlu,”kata KR. Taufiqurrahman Syakur saat menyampaikan khutbah Shalat Jumat di Masjid An-Nawawi, Kelurahan Karangduak, Jumat (08/05).
Sikap tawadlu berarti merendahkan hati. Menurut Sayyidina Ali ra, tawadlu ialah selalu menganggap setiap orang yang ditemui itu lebih baik dari diri sendiri.
“Siapapun itu orangnya. Tidak melihat pangkat, jabatan, harta, juga usia,”kata Kyai Taufiq, panggilan akrabnya.
Seorang guru juga menurut Kyai Taufiq haruslah bisa menyampaikan kebenaran tanpa harus membangkitkan perselisihan dan apalagi pertengkaran, sehingga seorang guru harus bisa mengkritisi pendapat orang lain yang keliru, tanpa memberikan vonis yang menimbulkan permusuhan.
“Jadi, jangan sampai salah sedikit lalu bilang kafir,”tambahnya.
Kyai Taufiq juga mengutip peri kehidupan ulama dan Rasulullah SAW, serta para sahabatnya dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat. Di sana selalu dikedepankan etika dan sopan santun, terutama dalam hal bertutur.
“Silakan berdebat, tapi dengan cara yang baik, sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, dan para penerus Beliau SAW,” tutupnya. ( Farhan, Esha )