Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 16-10-2016
  • 2755 Kali

Kiai Macan Ambunten, Ratu Simanya Madura

News Room, Senin ( 17/10 ) Sejarah Kecamatan Ambunten tidak bisa lepas dari nama besar Raden Demang Singoleksono atau yang dikenal dengan panggilan Kiai Macan. Tokoh legendaris Keraton Sumenep, yang kini jejaknya sudah hampir pudar di benak warga, khususnya di kawasan pesisir utara itu. Padahal, sosok agung yang mengingatkan kita pada nama Ratu Sima di bumi Jawa ini, berperan besar dalam membentuk peradaban maupun proses pemupukan Islamisasi di wilayah mardikan tersebut.

Di wilayah pesisir utara itu, Kiai Macan menjabat sebagai Kepala Ambunten. Jabatan sama dengan wali kota di jaman sekarang. Karena waktu itu Kabupaten Sumenep masih berstatus pemerintahan keraton. Kiai Macan juga masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Keraton Sumenep, khususnya dari dinasti Yudhonegoro. Beliau juga disebut sebagai salah satu senopati atau panglima perang keraton.

“Beliau ini sering diminta pendapatnya oleh Raja di masanya, karena dikenal alim dan kharismatik. Konon, Kiai Macan ini pernah dimintai tolong oleh raja Sumenep setiap ada permasalahan. Termasuk juga persoalan lintas negara. Dalam riwayat kuna Kiai Macan memiliki kendaraan berupa macan putih dan seekor ular besar. Beliau juga pernah memakai kendaraan terbang dari pelepah pisang atau pe-sapean pappa. Ada juga yang bilang naik ikan Mondung atau hiu. Begitu di antara kisah karomahnya,” cerita Drs. Moh. Raheli, salah satu kerabat Kiai Macan.

Pengaruh besar Kiai Macan ini yang selanjutnya menempatkan Ambunten sebagai wilayah mardikan (merdeka). Wilayah mardikan merupakan wilayah khusus yang dibebaskan dari pajak. Beberapa wilayah mardikan Sumenep lainnya seperti Batuampar, dan Barangbang.

Di kalangan masyarakat Ambunten, Kiai Macan juga dikenal memiliki karomah yang terus diingat hingga saat ini. Dulu, jika ada warga Ambunten kedatangan pencuri yang berhasil mengambil curiannya, warga yang kehilangan langsung mengadu ke Kiai Macan. Setelah itu Kiai Macan langsung mengambil kentongan atau tong-tong, lalu ditabuhnya sebentar.

“Tak lama kemudian, sang pencuri datang secara tidak sadar beserta barang curiannya. Akhirnya ketahuanlah pencurinya, dan barang curian tersebut kembali pada pemiliknya,” kata Raheli.

Sejak saat itu Ambunten aman dari segala kasus pencurian. Warga pun jadi tenang. Barang-barang berharga milik warga tidak pernah disembunyikan. Karena tidak ada satu orang pun yang berani mengambil kecuali pemiliknya. Kondisi Ambunten mengingatkan pada situasi di jaman Ratu Sima, kerajaan Kalingga. Di mana waktu itu meski barang berharga dibiarkan di jalanan, tak ada yang menyentuhnya kecuali sang empunya. ( M. Farhan, Fer )