Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 04-11-2015
  • 790 Kali

Kisah Orba, Media Tivi, Dan Perusakan Bahasa Daerah

News Room, Kamis ( 05/11 ) Perkembangan Bahasa Madura yang sejak lama dikritisi para praktisi Bahasa Madura senior, seperti almarhum RP. Abdus Sukur Notoasmoro, tidak bisa lepas dari tanggung jawab pemerintah dan media elektronik televisi di era pra Reformasi. Dan hingga kini tak jarang Bahasa Madura diplesetkan atau dipopulerkan secara tak sehat melalui dagelan-dagelan konyol. 

Setelah populer melalui film “Inem Pelayan Seksi” yang dibintangi oleh Jalal di masa pemerintahan Orde Baru (Orba), di dekade 1970-an, popularitas bahasa Madura semakin melejit ketika stasiun TV milik pemerintah yang berjaya di kala itu, TVRI, menayangkan film boneka “Si Unyil” yang menampilkan sosok mirip Jalal sebagai konotasi orang Madura. Sosok yang baru ini dinamai Buk Bariya. 

"Dalam film yang digemari anak-anak di dekade 1980-an ini, sosok Buk Bariya ditampilkan secara tidak pas karena dimadura-madurakan. Aksen juga begitu. Bahkan, tak sedikit kosakata yang diucapkan bercampur baur dengan bahasa Indonesia. Kata rojak meski dilafalkan rujak namun malah kehilangan maknanya. “Buk Bariya” ini mereduplikasi kata rujak dengan pengulangan suku kata akhirnya menjadi jak-rujak,"kata Dr. M. Saidi menantu Pak Sukur Notoasmoro, menirukan mertuanya, pada News Room. 

Memang dalam film tersebut, menurut Saidi, Buk Bariya divisualisasikan sebagai orang rantau yang menyambung hidup dengan menjajakan dagangan rujaknya. Padahal yang semestinya kata rujak atau rojak tidak harus direduplikasi. 

"Karena dalam kalimat yang diucapkan Buk Bariya dalam sineas tersebut merupakan bentuk penawaran, yang tidak harus diulang untuk melahirkan makna banyak atau tidak yang sesungguhnya, sebagaimana kaidah reduplikasi akhir suku kata dalam bahasa Madura,"jelas Saidi.

Fenomena tersebut dulu merupakan suatu hal yang sangat disayangkan, terutama karena sineas anak-anak itu ditayangkan oleh stasiun TV milik pemerintah yang seharusnya memberikan teladan, yang dalam hal ini terkait dengan perkembangan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. 

TVRI di masa itu merupakan standar media penerangan, pendidikan, dan pembangunan Negara ini, yang anehnya malah penayangkan salah satu perusakan bahasa daerah, yang dalam hal ini bahasa Madura. “Ya, barangkali, waktu itu Balai Bahasa di Surabaya tidak bisa berkutik menghadapi hal ini. 

Karena TVRI merupakan siaran sentral yang semua isinya dianggap benar,”pungkasnya, seperti yang dituturkan almarhum RP. Abdus Sukur Notoasmoro. ( Farhan, Esha )