Sumenep-Kominfo News Room : Banyaknya beras untuk rakyat miskin (raskin) yang belum ditebus di Depot Logistik (Dolog) Sumenep, seperti halnya di Kecamatan Batuan, yang baru menebus raskin hanya bulan Januari 2006 lalu, ternyata disebabkan karena kualitasnya jelek. Sehingga masyarakat enggan untuk menebus raskin tersebut. Demikian diungkapkan Camat Batuan, Drs. H. Achmad Fauzi, MM ketika dihubungi melalui telepon kantornya. H. Achmad Fauzi menuturkan, selain kualitasnya jelek, pihaknya enggan untuk menebus raskin itu, karena terganjal dengan pembayaran yang harus tunai. Padahal, sesuai kesepakatan Dolog dengan Pemerintah Kabupaten, bahwa sistem pembayaran tebusan raskin itu adalah hutang, yakni raskin bisa diambil terlebih dahulu, kemudian 3 minggu setelahnya baru dibayar tunai. Namun kenyataannya, ketika pihaknya mengambil raskin, ternyata setelah 1 minggu pihak Dolog sudah menagih uang raskin tersebut. Karena itu, pihaknya berharap sistem tebusan raskin itu dirubah dan disesuaikan dengan janji yang diberikan Pemkab Sumenep, yakni tebusannnya diberi jangka waktu setengah bulan setelah pengambilan raskin. H. Achmad Fauzi menandaskan, tidak sesuainya sistem tebusan yang diterapkan Dolog dengan keputusan Bupati Sumenep, KH. Moh. Ramdlan Siraj, SE, MM, maka pihaknya melayangkan surat teguran ke pihak Dolog Sumenep, terkait pemberitahuan bahwa kualitas raskin tidak layak pakai, dan pembayarannya tidak sistem hutang. Sementara itu, Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Sumenep, H. Achmad Sadik, S.Sos menyatakan, bahwa sistem tebusan itu sebetulnya bisa dilakukan dengan hutang, tapi sesuai dengan laporan yang diberikan beberapa Camat, ternyata pengambilan raskin harus tunai. Karena itu, dalam pendistribusian raskin ini, pihaknya meminta kepada para OPK Raskin, khususnya Camat untuk meningkatkan pengawasannya. Karena, pihaknya khawatir belum ditebusnya raskin itu disebabkan sistem pembayaran, dan kualitasnya jelek hanya akal-akalan dari Kepala Desa semata. ( Nita, Esha )