Sumenep-Kominfo News Room : Masyarakat penerima raskin di Kecamatan Sapeken mengeluh, karena jatah beras yang meraka terima tahun ini kwalitasnya jelek, jatah raskin di Kecamatan Sapeken ini yang mencapai 69 ton untuk 10 bulan, beras itu berair dan berulat. Akibat jeleknya kwalitas raskin tersebut, masyarakat enggan untk membeli jatah raskinnya, sehingga membuat Kepala Desa merugi. Camat Sapeken, Drs. Suprayogi mengakui, bahwa pada penyaluran raskin tahap kedua itu kwalitas beras yang diterima daerahnya sangat jelek dibandingkan jatah raskin tahap pertama. Kwalitas beras untuk jatah raskin tahap kedua setelah didistribusikan kepada masyarakat melalui Kepala Desa, ternyata masyarakat menolak membeli jatah raskinnya, karena beras itu sudah berair dan didalam beras banyak ulatnya. Suprayogi menuturkan, karena masyarakat tidak mau membeli jatah raskinnya, 9 Kepala Desa di Kecamatan Sapeken mengeluh dan mendesak raskin tahap kedua ini dikembalikan agar Kepala Desa tidak merugi. Oleh karenya munculnya keluhan itu, pihaknya akan berkonsultasi dengan pihak Dolog Sumenep, guna mencari solusinya. Hal senada juga diungkapkan Kepala Desa Pegerungan Besar, Moh. Hasyim. Menurutnya, jatah raskin di Desanya jauh berbeda dengan sebelumnya, untuk tahap kedua berasnya basah dan berulat, ironisnya mengetahui kwalitasnya jelek, mayasrakat enggan untuk membeli. Moh. Hasyim menerangkan, kendati jatah raskin di Desanya sudah terjual ke masyarakat penerima, namun penjualannya terpaksa sedikit menekan, agar masyarakat tetap membeli jatah berasnya. Ditempat terpisah anggota Komisi D DPRD Sumenep, Badrul Aini, menyayangkan jika kwalitas raskin itu jelek apalagi sampai berulat, padahal beras yang ada di Dolog itu jenis berasnya medium. Oleh karenya, menurut politisi asal PKS ini, kalau memang beras raskin kawalitasnya jelek sehingga tidak mau dibeli masyarakat, semestinya dikembalikan ke Dolog, agar diganti dengan yang kwalitasnya bagus. Sementara itu saat dikonfirmasi media ini, Kepala Depot Logistik (Dolog) Sumenep, Nityo Nugroho mengatakan, jeleknya kwalitasnya raskin tahap kedua di Sapeken, karena beras itu lama tidak diambil pihak Kecamatan, sehingga lama berada digudang. Apalagi stock raskin tahun 2006 ini, merupakan stock beras tahun 2005. Anehnya menurut Nityo Nugroho, kenapa persoalan raskin di Sapeken baru terungkap saat ini, setelah sekian bulan dari waktu pengambilan di Dolog. ( Yasik, Esha )