News Room, Rabu ( 06/05 ) Secara historis, masjid Agung (Jamik) Sumenep dibangun atas perintah dan kreasi Panembahan Sumolo (Natakusuma ke I), Raja Sumenep yang memerintah sejak tahun 1762 hingga 1811 Masehi. Namun, sejarah tidak pernah menyebutkan secara tertulis, siapa yang menjadi peletak batu pertama masjid yang dibangun satu paket dengan Keraton Sumenep di Pajagalan, yang hingga kini sangat diagungkan warga Sumekar ini.
“Peletak batu pertama masjid Agung adalah Kyai Pekke, dari Desa Lembung, Kecamatan Lenteng,”kata Fahrurrazi, salah seorang pemerhati budaya di Sumenep, pada News Room.
Kyai Pekke merupakan panggilan masyarakat Sumenep di masanya. Beliau adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng. Nama aslinya ialah Kyai Faqih. Beliau adalah putra dari Kyai Khathib Bangil, kampung Parongpong Desa Kecer, Kecamatan Dasuk.
Kyai Faqih atau Kyai Pekke bersaudara dengan Nyai Nuriyam, ibu dari Bindara Saut; dan juga bersaudara dengan Nyai Galuh, ibu dari Nyai Izzah; isteri pertama Bindara Saut, sekaligus ibu dari Panembahan Sumolo.
Sumber yang menyatakan bahwa Kyai Pekke adalah peletak batu pertama masjid Agung, ialah riwayat dari para sesepuh bangsawan Sumenep dinasti terakhir.
“Saya mendengarnya dari kakek saya, almarhum RB. Abdurrahman. Dan dibenarkan oleh para famili serta sesepuh,”kata Fahrurrazi.
Kyai Pekke juga tercatat sebagai guru Bindara Saut dan Panembahan Sumala, keponakan dan cucu keponakannya.
Di masanya, Kyai Pekke dikenal sebagai ulama besar Sumenep yang ahli di bidang fiqh (hukum Islam). Tak hanya itu, sejarah juga mencatat Kyai Pekke sebagai seorang seniman sekaligus budayawan besar.
Bahkan nama beliau tercatat di DI Jogjakarta, karena sering diundang ke sana dalam pertemuan seni dan budaya di masanya.
Beliau wafat dan dimakamkan di Asta Lembung bersama anggota keluarganya. Sementara peninggalan pesantrennya saat ini hanya tinggal bekasnya saja. ( Farhan, Esha )