News Room, Senin ( 07/04 ) Keabadian rakyat yang mulai berani menggugat hegemoni penguasa, saat rakyat memilih figur, maka sesungguhnya realitas mengajari perlawanan. Seba, yang dihadapi adalah pemilik kuasa yang konteks naif, seperti menjual atau hendak menyamakan dirinya dengan Tuhan. Hal tersebut disampaikan pengamat politik Sumenep, Drs. H. Sachlan Effendi, M.Si kepada News Room, Senin (07/04). Menurutnya, takdir itu ada di tangan-tangannya, karena suara Tuhan dalam langgam filsafat Renais Sance itu bisa diselesaikan secara berbayar. Dan pada detik ini, gaung pro demokrasi yang menginginkan egalitarianisme. Selanjutnya, realitas menuntun dan mengajari rakyat kekinian tentang harga diri itu dominan berhadapan dengan mesin pendulang suara. Selain itu, rakyat berada pada level dan grade tertinggi, bukan karena politisi memanfaatkannya, tapi karena politisi kebingungan mencari dimana mereka. Padahal ini jelas adalah panggung, dimana kita sebenarnya menyaksikan wajah mereka 5 tahun mendatang. Jadi, mirip panggung Dangdut Akademi yang tengah mencapai puncak, dan kita tentu harus jadi penonton yang kritis. ( JuP-01, Esha )