Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 07-12-2015
  • 1964 Kali

Mengenai Kangjeng Kai, Pemberontak Dari Semarang

News Room, Selasa ( 08/12 ) Bagi kalangan kolonial atau para penjajah, para pejuang pribumi atau pahlawan dianggap pemberontak. Seperti istilah perjuangan Diponegoro yang dikenal dengan perang Jawa, diistilahkan Belanda sebagai pemberontakan Diponegoro.

Tokoh-tokohnya juga dipanggil dengan sebutan pemberontak. Seperti tokoh di balik layar perang Jawa, pemberontak dari Semarang, sang Adipati yang bergelar Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V yang makamnya ada di Asta Tinggi Sumenep.

"Ada kisah tersendiri hingga salah satu penguasa besar di Tanah Jawa hingga dimakamkan di sini,"kata salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep, RB. Moh. Muhlis, pada Media Center.

Menurut Gus Muhlis, Surodimenggolo V atau yang di sini dikenal dengan Kangjeng Kai, merupakan salah satu konsultan perang Jawa. Sebelum meletus perang Diponegoro, diceritakan jika Pangeran Diponegoro sering meminta masukan atau nasehat dari salah satu cendekia besar di Jawa tersebut.

"Kangjeng Kai memang dikenal sebagai salah satu bangsawan utama yang pakar di bidang politik, budaya dan peradaban Jawa. Gubernur Jenderal Raffles dari Inggris dulu sangat memujinya, dan sering bertanya masalah kebudayaan Jawa pada beliau,"kata Muhlis.

Tahun 1822 merupakan titik balik kehidupan Hoofd Regent atau Adipati Wadhono (Kepala Adipati yang membawahi beberapa Kadipaten) di Semarang ini.

Beliau diturunkan paksa dari kekuasaannya oleh Belanda dan diasingkan di atas kapal perang Pollux dan kapal perang Maria Reygersbergen, bersama-sama putranya yang juga dianggap revolusioner berbahaya oleh Belanda, yakni Raden Saleh alias Raden Ario Notodiningrat.

"Beliau berdua dianggap terbukti memiliki hubungan yang erat dengan Diponegoro dan perang Jawa,"kata Muhlis.

Setelah itu keduanya diangkut ke Surabaya dan dari sana dikirim ke Ambon tahun 1826. Atas usaha Raden Saleh, mereka dijamin atau diberi suaka oleh Sultan Sumenep, Pakunataningrat. Kebetulan Kangjeng Kai memang saudara sepupu sekaligus mertua Sultan Sumenep. "Beliau berdua tiba di Sumenep 24 April 1830,"tambah Muhlis.

Di Sumenep Kangjeng Kai tetap diawasi gerak-geriknya oleh Belanda hingga wafatnya tanggal 25 Dzulhijjah 1242 Hijriah.

Perjuangannya di Sumenep juga tak lebih secara politis. Adipati yang di Semarang juga dikenal dengan sebutan Kangjeng Terboyo ini dimakamkan di Asta Tinggi Sumenep.

Anehnya, di Semarang, konon makam Suroadimenggolo V, Adipati yang dikenal sikap kerasnya pada orang Belanda ini juga ada. Di masa hidupnya beliau memang dikenal sebagai sosok yang arif dan memiliki karomah. Sebutan Terboyo konon karena beliau selalu diiringi boyo atau buaya yang sangat besar.

"Konon makamnya yang di Semarang lebih ramai diziarahi,"tutup Muhlis, yang juga merupakan keturunan Kangjeng Kai ini. ( Farhan, Esha )