Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 23-08-2015
  • 1612 Kali

Mengenal Pusaka Keraton Sumenep Se Lobok Seharga Pulau Kangayan

News Room, Senin ( 24/08 ) Senjata pusaka peninggalan Keraton Sumenep dikenal dengan jenis bahan utamanya, yakni jenis besinya yang baik dan keindahan seninya yang tak kalah dengan pusaka peninggalan Keraton di Jawa khususnya Mataram.

Jenis pusaka Keraton atau yang biasa disebut jenengan dalem juga diyakini memiliki nilai lebih dibanding pusaka lainnya. Seperti pusaka Keraton Sumenep yang bernama Se Lobok misalnya. Konon pusaka ini bernilai tukar pulau Kangayan.

"Ada kisah kuna mengenai hal itu," kata salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, RP. Mohammad Mangkuadiningrat, pada News Room.

Menurut Mohammad, pusaka Se Lobok adalah buatan tangan Sultan Sumenep Abdurrahman Pakunataningrat. Pusaka ini dibuat di Bone Sulawesi. Sehingga bentuk atau model pusaka se Lobok mirip dengan badik atau pisau, senjata khas Bone waktu itu.

"Waktu pembuatannya ketika Sultan berkunjung ke Bone. Kebetulan, salah satu isteri Sultan adalah putri Raja Bone," kata Mohammad.

Ketika Sultan kembali ke Sumenep, Se Lobok tertinggal di Bone. Setelah sekian tahun, salah satu cucu Sultan dari putri sulungnya, yakni Pangeran Adipati Suryokusumo alias Raden Banjir, bertolak ke Bone untuk menjemput se Lobok. Namun hal itu tidak mudah, karena Raja Bone sendiri seperti keberatan melepas Se Lobok.

"Akhirnya setelah dipaksa, akhirnya Se Lobok diserahkan pada Pangeran Suryokusumo. Namun Raja Bone mengajukan syarat sebagai imbalannya," ujar Mohammad.

Syarat itu ialah agar Sumenep bersedia jika salah satu pulaunya ditempati oleh warga Bone, dan pulau yang dimaksud adalah kepulauan Kangeyan. Syarat tersebut diterima oleh Pangeran Suryokusumo. Akhirnya Se Lobok diberikan dan dibawa pulang ke Sumenep.

"Sejak setelah itu, banyak warga Sulawesi khususnya Bone yang menetap di Kangayan, dan turun-temurun hingga saat ini," tambah Mohammad.

Sementara pusaka Se Lobok sendiri dipegang oleh Pangeran Suryokusumo. Setelah itu jatuh ke keturunannya. Pada waktu terjadi clash dengan Belanda tahun 1947, menurut Mohammad, se Lobok dipegang oleh ayahnya, Mayor R A Mangkuadiningrat, Komandan Resimen 35 Jokotole Madura.

"Kini pusaka se Lobok berada di keluarga kami, dan dirawat oleh salah satu anggota keluarga," tutup pensiunan dinas Sosial Sumenep ini. ( Farhan, Fer )