Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 11-06-2015
  • 2221 Kali

Menggali Dan Hidupkan Kembali Sastra Madura Yang Terkubur

News Room, Jumat ( 12/06 ) Budaya Madura begitu luas. Ibaratnya sebuah pohon besar yang banyak dahannya, banyak ruasnya, dan rindang. Namun kini, pohon budaya Madura mulai meranggas. Banyak dahan dan ruasnya yang patah, daunnya pun sudah berguguran. Berceceran dan berserakan di mana-mana. Bahkan banyak di antaranya yang sudah terkubur.

“Salah satu bagian dari budaya Madura yang kini sudah berserakan dan terkubur itu, ialah sastra Madura. Padahal dulu, di Madura ada tradisi sastra tulis. Pada jaman Balai Pustaka, sekitar tahun 1920-an, lemari-lemari sekolah di Madura banyak dipenuhi buku-buku tulisan para pujangga Madura. Baik itu buku terjemahan, saduran, maupun karangan asli mereka,”kata salah seorang pemerhati Budaya Madura, Rabiatul Adawiyah, S.Pd, pada News Room.

Padahal, menurut Rabiatul, para ahli, di antaranya doktor Bahasa Daerah, Suripan Sadi Hutomo mengatakan, bahwa Bahasa Madura memiliki tradisi sastra, yang karya sastranya tergolong bermutu, baik dari segi pandang kacamata sastra maupun dari sisi kandungan moralnya.

“Di Madura, karya sastra banyak. Ada prosa (gancaran), syair (syi ir), pantun, papareghan, tembang, puisi bebas. Dan salah satu yang paling digemari di Madura ialah sastra yang bernama tembang,”kata salah seorang guru di SMPN 1 Saronggi ini.

Rabiatul menjelaskan, tembang ini merupakan karangan yang sudah diikat dengan guru lagu, dan guru bilangan. Di Madura tembang dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat yang merupakan mayoritas beragama Islam. Lagunya memiliki ketetapan tersendiri, meski banyak versi. Di Madura, tempang dikenal dengan istilah Macapat.

“Macapat sendiri sejatinya merupakan salah satu macam dari 3 macam tembang, disamping tembang tengnga an dan tembang raja. Macapat merupakan nama lain dari tembang kenek. Masyarakat Madura mayoritas hanya tahu dan menggemari tembang kenek atau macapat tersebut,”imbuhnya.

Saking senangnya pada Macapat, di Madura sejak jaman lampau banyak didirikan perkumpulan Macapat, yang selanjutnya dikenal dengan istilah kompolan mamaca. Karena, buku-buku tembang macapat ini dulunya banyak yang ditulis dengan aksara carakan (gajang), dan banyak yang berbahasa Jawa, maka di perkumpulan tersebut ditunjuklah tokang tegges.

Tokang tegges ini sama dengan penerjemah, sehingga mereka yang mendengarkan tembang macapat ini bisa paham dan mengerti makna dari cerita yang ditembangkan tersebut.

“Tembang Macapat atau tembang kenek ada banyak macamnya. Ada literatur yang menyebutkan 9 tembang, dan ada juga yang lebih dari itu dengan menyebutkan 11 macam tembang macapat. Jadi, intinya bukan macapatnya, namun kita harus menggali dan menghidupkan kembali sastra Madura yang sudah lama terkubur ini.

Sedangkan yang berserakan dan berceceran kita pungut, dan kita lestarikan. Agar generasi muda kita tidak malah asing terhadap sejarah dan budaya asalnya,”tutup Rabiatul. ( Farhan, Esha )