News Room, Jum’at ( 12/08 ) Tak hanya memiliki status sebagai salah satu tokoh utama Pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk yang didirikan ayahnya, Kiai Syarqawi, Kiai Sajjad juga berhasil menduduki kursi Kepala Desa Guluk-guluk, setelah bersedia masuk bursa pencalonan. Jabatan ini didapat tidak lebih karena dilatar belakangi oleh kepentingan dakwah.
"Memang secara karakter, Kiai Sajjad merupakan tipologi pemimpin pesantren yang lebih aktif melakukan pembenahan eksternal, sehingga kedekatannya dengan masyarakat sangat diakui,"kata Ahmad Irfan Aw, salah satu cicit Kiai Sajjad pada Media Center.
Bahkan menurut Irfan, saat setiap ada tetangga yang sakit, beliau bersama sebagian santrinya berkunjung, sembari membacakan qasidah Burdah untuk mendoakan yang sakit itu. Sehingga dengan menjadi pemimpin Desa, cita-citanya untuk menanamkan Islam secara institusional dipandang lebih mudah.
Pelantikan Kiai Sajjad sebagai Kalebun (Kepala Desa) hampir bersamaan dengan agresi militer Belanda tahun 1947. Belanda yang tidak menerima kedaulatan RI melakukan kontak fisik di daerah-daerah NKRI setelah sebelumnya melakukan gencatan senjata sebagai konsekuensi dari kesepakatan perjanjian Linggarjati.
Padahal, awalnya justru perjanjian Linggajati dianggap sebagai kekalahan diplomasi Indonesia, karena Republik Indonesia terlalu banyak mengalah terhadap Belanda.
Keuntungan yang didapat pihak Indonesia hanya berupa pengakuan de facto kekuasaan Indonesia atas pulau Jawa dan Sumatera, sedangkan keuntungan yang diperoleh pihak Belanda adalah memecah belah NKRI.
Gangguan kembali Belanda ini lebih memantapkan tekad Kiai Sajjad untuk lebih aktif di ranah eksternal pesantren, sehingga fungsi pesantren sebagai rumah ilmu untuk sementara digeser menjadi markas menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda yang ingin kembali menjajah.
Posisi pemimpin laskar Sabilillah yang awalnya dipegang kakaknya, kiai Mohammad Ilyas, dialihkan ke kiai Sajjad yang dibantu oleh keponakannya kiai Khazin bin Mohammad Ilyas.
Gerakan-gerakan untuk memutus akses Belanda ke Sumenep mulai dilancarkan. Namun, tentu saja perang antar 2 kekuatan yang tak seimbang kerap melahirkan resiko kekalahan di pihak yang lebih sedikit laskar dan minim persenjataan. Kondisi ini membuat Kiai Sajjad dan keluarga besar An-Nuqayah terpaksa mengungsi ke tempat yang aman.
Kiai Sajjad sendiri dan kiai Khazin bersembunyi di Karduluk di kediaman Kiai Ahmad Bahar, saudara dekatnya. Sebelumnya sempat dianjurkan Kiai Bahar, agar sementara waktu ke duanya bersembunyi di pulau Jawa, ternyata ditolak oleh Kiai Sajjad. Alasannya, beliau tidak ingin meninggalkan warga dan keluarganya di Guluk-guluk.
Setelah beberapa bulan lamanya bersembunyi, tepatnya di bulan November 1947, datang seorang santri utusan dari Belanda yang membawa kabar, bahwa guluk-guluk sudah aman.
Kiai Sajjad tanpa berprasangka buruk, akhirnya kembali ke Guluk-guluk, dan sempat melaksanakan shalat ashar dan maghrib dengan berjamaah bersama warga sekitar yang langsung beramai-ramai mengunjungi beliau. Namun ba’da shalat maghrib, beberapa tentara Belanda tiba-tiba datang dan memaksa kiai Sajjad, agar menyerahkan diri.
Hampir saja terjadi kontak fisik antara warga dan tentara Belanda, namun demi tidak terjadi korban di fihak warga, kiai Sajjad rela menyerahkan diri. Selanjutnya beliau dibawa ke lapangan Guluk-guluk dan dieksekusi di sana. ( Farhan, Esha )