Media Center, Kamis ( 01/03 ) Meskipun usai kegiatan Batik on The Sea 2018 yang digelar di Pantai
Lombang, Minggu (25/02) lalu, namun kepuasan masih terasa di hati dan pikiran salah seorang kreator atau konseptor kegiatan
Batik on The Sea 2018, Elyes Ayos.
Menurutnya, kegiatan Batik on
The Sea 2018 boleh usai, namun semangat dalam mengangkat Batik Sumenep
harus terus menyala. Apalagi batik khas Sumenep, yakni Batik Bumi
Sumekar yang sempat dilelang oleh Bupati Sumenep, Dr. KH. A. Busyro
Karim, M.Si pada kegiatan tersebut.
"Saya tidak melihat nominalnya
berapa, namun yang sempat saya rasakan, saat Bupati melelang Batik Bumi
Sumekar tersebut, yang ternyata antusias yang menawar sangat luar
biasa, hingga dilepas dengan harga tertinggi dan cukup
fantastis,” ungkapnya.
Menurut pria lulusan Institut Kesenian
Jakarta (IKJ) ini, konsep kegiatan Batik on The Sea 2018 yang non APBD,
namun berkat kesigapan Pemkab Sumenep dan Perbankan di Sumenep, kegiatan
tersebut dinilai berhasil dan memberikan nuansa baru, serta semangat
baru dalam mengekspor Batik Khas Sumenep, yang notabene merupakan
kekayaan seni batik yang dimiliki Kota Sumekar ini.
Karena itu,
dalam salah satu konsep yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Batik
on The Sea 2018, yakni dengan pemberian apresiasi kepada para pengrajin
batik, baik para pendahulu maupun penerusnya. Dan itu merupakan bentuk
penghargaan kepada para pengrajin dan seniman batik yang luar biasa.
Sementara menurut Ayos, konsep lain yang menata panggung di atas
permukaan laut dan di buka dengan kolaborasi 9 macam unsur aset seni dan
budaya, mulai tari, batik, fashion, upacara adat, hadrah, musik
saronen, pencak silat hingga marching band, merupakan sebuah ide
kreatifitas yang tidak bisa dinilai dengan uang.
“Sebenarnya yang
terpenting, bagi kami bisa berbuat untuk menyukseskan acara Batik on The
Sea 2018 yang merupakan kebanggan tersendiri, karena pada akhirnya
nanti publik yang bisa menilai ke depan, seperti apa dampak dari
kegiatan tersebut,” pungkasnya. ( Ren, Esha )