Media Center, Sabtu (18/07) Pembangunan jembatan melalui
Program Karya Bakti Skala Besar (KBSB) TNI AD untuk rakyat Madura di Dusun
Galuguran, Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, mulai
memasuki tahap pekerjaan pondasi, Sabtu (18/07/2026).
Tahap awal yang dikerjakan meliputi pemerataan tanah hasil
galian dan penggalian pondasi di kedua sisi jembatan. Kegiatan tersebut
melibatkan personel Koramil 0827/11 Pasongsongan bersama warga setempat yang
bergotong royong sejak pagi.
Penggalian pondasi menjadi pekerjaan penting karena akan
menentukan kekuatan konstruksi jembatan. Berdasarkan hasil di lapangan,
penggalian pada sisi selatan maupun utara telah mencapai lapisan tanah keras
yang menjadi dasar untuk pembangunan selanjutnya.
Pada sisi selatan, pondasi memiliki lebar 3 meter, panjang 2
meter, dan kedalaman 1,5 meter. Sementara lubang paku bumi mencapai kedalaman
1,40 meter. Adapun di sisi utara, ukuran pondasi sama dengan kedalaman lubang
paku bumi mencapai 1,10 meter.
Selain pekerjaan pondasi, material konstruksi mulai dipasok
ke lokasi, terdiri atas satu dump truk batu gunung, satu dump truk batu koral,
dan satu dump truk pasir hitam sebagai kebutuhan pembangunan.
Babinsa Koramil 0827/11 Pasongsongan, Sertu Dadang Sulistyo,
mengatakan pekerjaan berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
"Hari ini kami fokus menyelesaikan pondasi.
Alhamdulillah di kedua sisi sudah bertemu tanah keras, sehingga pekerjaan bisa
dilanjutkan sesuai rencana," kata Dadang.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu
faktor yang mempercepat proses pekerjaan di lapangan.
Sementara itu, warga Dusun Galuguran, Amirudin, menyambut
baik dimulainya pembangunan jembatan yang selama ini dinantikan masyarakat.
"Kami ikut membantu karena jembatan ini memang
kebutuhan warga. Harapannya bisa segera selesai agar akses lebih mudah dan
aman," ujar Amirudin.
Jembatan tersebut merupakan salah satu sasaran Program Karya
Bakti Skala Besar TNI AD di wilayah Kodim 0827/Sumenep. Pembangunan
infrastruktur itu diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antarwilayah
sekaligus mempermudah aktivitas masyarakat, terutama saat musim hujan ketika
akses di kawasan tersebut kerap terkendala.
(Dim, Han)