Media Center, Selasa ( 05/12 ) Program pengentasan buta aksara di Kabupaten Sumenep
terus menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, agar
bisa terlepas dari predikat sebagai Kabupaten yang sempat menjadi
tertinggi ke dua di Indonesia, dan Jawa Timur. Bahkan di tahun 2018
mendatang, Kabupaten Sumenep menganggarkan dana Rp 700 juta untuk
program pemberantasan buta aksara.
Kasi Kelembagaan Sarana dan
Prasarana PAUD dan Pendidikan Formal, Haryanto, S.Pd, M.M.Pd, kepada
wartawan, Selasa (05/12) mengungkapkan, secara progres data penyandang
buta aksara di Badan Pusat Statistik menyebutkan, sejak 2010 penyandang
buta aksara di Sumenep mencapai 56 persen dari total 134,5 ribu
penyandang, dan hingga saat ini sudah ada sekitar 80 ribu warga yang
sudah mengikuti program keaksaraan fungsional.
“Dengan usia
penyandang buta aksara dikisaran usia 40 ke 45 tahun, maka program
pembelajaran fungsional memang harus tetap kita diberikan,”ungkapnya.
Sedangkan, jika mengacu pada Petunjuk Tehnis Pemerintah Pusat, tatap
muka hanya dilakukan selama 114 jam. Untuk itu, perlu juga ada
pendampingan tutor keluarga dengan memberikan pembelajaran yang sama,
agar peserta tidak kembali lupa membaca dan berhitung.
Menurut
Haryanto, dengan dianggarkan Rp 700 juta, diharapkan program
pemberantasan buta aksara pada 2018 mendatang, bisa juga di singkronkan
dengan Dana Desa (DD) melalui Gerakan Desa Pemberantasan Buta Aksara,
sehingga target pada 2019 mendatang, Sumenep sudah bisa bebas dari buta
aksara.
“Program ini memang membutuhkan kelanjutan, sebab kalau
tidak diberikan pendampingan, maka bisa saja program ini menjadi
sia-sia, karena banyak yang lupa,”tandasnya. ( Ren, Esha )