Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 19-09-2013
  • 542 Kali

Penanganan Kelangkaan BBM Berkutat Pada Ongkos Angkut

News Room, Kamis ( 19/09 ) Polemik kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda wilayah Kepulauan Sumenep, terus berbuntut panjang. Penanganan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten setempat belum menuai hasil. Bahkan, silaturrahim dengan pemegang rekom, Pertamina dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait sebagai pejabat pembuat rekom, yang digelar Kamis (19/09) siang, dipimpin langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, Drs. Hadi Soetarto, M.Si justru menimbulkan persoalan baru. Dalam acara tersebut mencuat, bahwa ongkos angkut BBM yang ditawarkan Pertamina melalui perwakilannya dari Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) Masalembu, ditetapkan Rp. 1.220,00 per-liter. Sekda mengatakan, hasil koordinasi dengan Gubernur Jawa Timur bersama Pertamina, bahwa disepakati jika Pertamina akan membantu alat transportasi untuk mengangkut pendistribusian BBM ke kepulauan Sumenep. Dengan catatatn memakai perahu layar motor (PLM) yang sudah punya ijin angkut dari Pertamina. “Sebenarnya surat rekom itu tidak ada persoalan. Yang dipersoalkan adalah alat transportasi tidak sesuai ketentuan. Makanya, Pertamina memberikan solusi bantuan armada angkut BBM,”terangnya. Hanya saja, lanjut Sekda, ongkos angkut yang ditawarkan pertamina itu sangat tinggi, dan nantinya akan memberatkan pemegang rekom, yang ujung-ujungnya harga BBM dikepulauan semakin naik. “Ini perlu negosiasi lagi dengan pertamina, sekaligus meminta kejelasan dari syahbandar untuk ijin operasinya,”tandasnya. Sementara, salah seorang pemegang surat rekom BBM dari Kepulauan Sapudi, AZ Rahman, mengaku kaget dengan kebijakan ongkos angkut yang ditetapkan Pertamina. “Bagi kami, ongkos angkut BBM Rp. 1.220,00 perliter cukup fantastis, dan mencekik masyarakat Kepulauan Sapudi. Bisa dibayangkan, kalau kita mengangkut 80 drum atau 16.000 liter BBM, maka biaya angkut bisa mencapai Rp. 19.520.000,00. Padahal biaya angkut yang selama ini kita jalani hanya sebesar Rp. 30.000,00 per-drum,”ujarnya. Az Rahman menolak dengan kebijakan ongkos angkut itu, namun pihaknya bersama pemegang rekom BBM mengajukan tawaran Rp.150,00 per-liter Kepulauan Sapudi, dan Rp. 200,00 per-liter untuk Kepulauan Raas. “Kalau tawaran kami ditolak ya kami tidak bisa mengikuti aturan ongkos angkut dari Pertamina tersebut. Karena terlalu mahal,”ungkapnya. Silaturrahim yang berjalan selama 2,5 jam, sejak pukul 14.30 hingga 16.00 WIB, tidak membuahkan hasil. Karena, belum ada keputusan besaran biaya ongkos angkut BBM tersebut. Kasus kelangkaan BBM ini mencuat, pasca penangkapan BBM yang akan dipasok kekepulauan sepudi, oleh Samsudin alias Suddin (51) warga kepulauan setempat pada 18 Juni 2013 lalu. Pengakapan itu dilakukan oleh Ditpolair Polda Jawa Timur, saat melakukan operasi diperairan Sumenep. Akibatnya, hingga saat ini tidak ada masyarakat yang berani memasok BBM ke Kepulauan Sapudi, Raas, termasuk ke Masalembu. Harga pun melonjak hingga Rp. 20.000,00 per-liter. ( Nita, Esha )