News Room, Senin ( 07/06 ) Persoalan dualisme kepengurusan di tubuh DPC Partai Demokrat Sumenep, yang saat ini masih dalam proses penyelesaian, sempat diwarnai issu hingga pada soal Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap anggota DPRD Sumenep yang merupakan kader Partai Demokrat tersebut. Bahkan, salah seorang anggota DPRD Sumenep yang juga politisi Partai Demokrat, A. Kurdi HA mengaku mendapat SMS beberapa kali, yang intinya ancaman terhadap posisi dirinya sebagai anggota DPRD Sumenep. Namun, tegas Kurdi pihaknya tidak ingin menanggapi terlalu serius SMS dari orang yang tidak bertanggung jawab itu. “Sebab, jika saya menanggapi, sama halnya saya seperti mereka yang tidak tahu menahu soal politik . Karena akan percuma ditanggapi, malah mereka tidak bisa mengerti juga,â€Âujar Kurdi. Anggota DPRD Sumenep yang kesehariannya santai dan senang berkelakar ini, tampak tenang dan mencoba untuk tidak menggubris berbagai pertanyaan wartawan, terkait polemik yang terjadi di tubuh Partai Demokrat Sumenep. Hanya saja, Kurdi meminta kepada para penyebar SMS untuk tidak iseng. Sebab, dalam politik memang biasa terjadi seperti itu. “Yang penting jangan membuat masalah, agar tidak terjadi masalah. Kalau sudah bermasalah nanti ruwet sendiri,â€Âtambahnya sedikit berkelakar. Ketika ditanya, soal kedudukannya antara 2 kubu yang bersengketa di tingkat elite pengurus DPC Partai Demokrat Sumenep, Kurdi menegaskan, ikut yang solit dan benar saja. Tentu yang sah, dan mendapat legalitas jelas dari pengurus partai diatasnya. “Yang jelas, saya sebagai politisi sejati, berusaha terus berjuang bersama ribuan orang yang mendudukung saya, sehingga menjadi anggota DPRD, bukan dengan pengurus Partai yang bermasalah,â€Âpungkasnya menyimpan banyak arti. ( Ren, Esha )