Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 31-12-2007
  • 342 Kali

Presiden RI : Pandanglah Bencana Dengan Dua Pendekatan

News Room, Senin ( 31/12 ) Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta kepada masyarakat yang terkena musibah melakukan dua pendekatan dalam memandang bencana yang terjadi, yakni pendekatan keilmuan dan keimanan. Saat melakukan temu wicara dengan camat dan lurah se Kabupaten Pacitan, Minggu (30/12) sore, Susilo mengatakan, saat melihat suatu bencana, diharapkan masyarakat secara jernih memandang, tidak perlu melakukan pendekatan secara mistik. Yang harus dilakukan yakni melakukan pendekatan keilmuan dan keimanan, artinya melakukan pendekatan secara ilmiah dan agama. Bencana yang terjadi menurutnya merupakan rahasia alam, atau kehendak Yang Kuasa. Dijelaskannya, bumi yang kita tempati ini bukanlah seperti kelereng padat yang permukaannya licin, namun seperti kulit jeruk yang ada lipatan-lipatannya dan di dalamnya terdapat cairan. Kalau bumi, terdapat lempengan-lempengan yang bisa bergerak-gerak. Bumi tidaklah tetap, namun berputar pada porosnya, yang satu putaran menghabiskan waktu 24 jam, sedangkan bumi bersama bulan berputar mengelilingi matahari menghabiskan waktu 1 tahun. ”Dalam perputaran tersebut terdapat tabrakan antar lempengan-lempengan yang disebut proses keseimbangan,” katanya. Di Indonesia, ada lempeng Asia, Australia, serta Pasifik, disebelah selatan Pulau Jawa dan sebelah barat Sumatra terdapat batas lempengan. “Lha, kalau tabrakan lempengen ini terjadi, maka timbulah gempa bumi. Kalau tabrakannya naik turun maka menimbulkan tsunami. Jadi, kalau ada gempa di Jawa, Sumatra,Sulawesi NTB, NTT, sampai Papuan yang kadang menimbulkan tsunami, itu terjadi karena rahasia alam dan kehendak Yang Maha Kuasa,” ujarnya. Yang perlu dilakukan saat ini, yakni mencoba mengenali bencana yang akan terjadi, dan berlatih serta memberikan pengetahuan kepada rakyat. Agar jika terjadi tsunami, maka bisa menyelamatkan diri. Untuk bencana longsor dan banjir, manusia turut andil, oleh karena itu dalam mengatasinya, manusia harus bergotong royong mengembalikan kondisi alam seperti semula agar tidak terjadi lagi banjir dan longror. Sementara itu, sebelum melakukan temu wicara bersama camat dan lurah se Kabupaten Pacitan, SBY mendengarkan penjelasan mengenai penanganan bencana yang dilakukan Pemerintah Propinsi (Pemprop) Jatim. Penjelasan yang disampaikan Gubernur Imam Utomo, menyebutkan langkah-langkah yang dilakukan Pemprop Jatim, seperti membuka dapur umum, mengadakan penyediaan air bersih, bahan makanan, serta alat evakuasi tenda keluarga. Dijelaskan Imam, banjir yang paling besar terjadi di daerah Bojonegoro dan Ngawi. Untuk titik banjir secara keseluruhan di Jatim terdapat 11 titik, diantaranya Malang, Ngawi, Trenggalek serta Madiun. SBY mendukung penuh langkah Pemprop Jatim dalam penanganan bencana yang terjadi. Dia mengharapkan,dalam penanganan bencana ini, yang terpenting yakni kesabaran serta perpaduan dalam mengatasinya. ( JNR, Soek )