Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-06-2016
  • 2903 Kali

Pringgoloyo, Dari Duo Raden Shaleh Yang Mewarnai Sumenep

News Room, Kamis ( 16/06 ) Kawasan Asta Tinggi tidak hanya kaya dengan suguhan pemandangan wisata yang menarik. Di kawasan ini banyak menyimpan sejarah bisu. Bisu karena tidak tertulis, maupun hilang dari peredaran ingatan. Tidak hanya identik dengan kuburan jasad para tokoh legendaris di Sumenep, namun juga kuburan sejarah kehidupannya. Salah satu titik sejarah bisu yang hingga kini terkubur itu ialah situs pemakaman kuna Raden Adipati Pringgoloyo.

Raden Adipati Pringgoloyo adalah nama yang digunakan pria kelahiran 1801 Masehi ini semenjak menduduki posisi Rijksbestuur (Patih) Sultan Sumenep. Pringgoloyo tercatat memiliki beberapa nama. Di antara beberapa namanya itu, nama kecilnya (nickname) ialah Raden Shaleh atau Saleh.

Pringgoloyo lahir di Semarang. Ayahnya ialah penguasa wilayah itu yang berkedudukan di Terbaya atau Terboyo. Salah satu penguasa Semarang yang namanya melegenda sekaligus dahulu masuk “daftar hitam” yang tercoret dalam deretan keluarga bangsawan di sana. 

Kisah ayahnya mirip Pangeran Diponegoro, pencetus Perang Jawa; yang bahkan sempat “hilang” di lembaran tepas darah keraton, buku besar yang memuat pohon silsilah keturunan Raja-raja di Mataram.

Ayah Pringgoloyo ialah Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V, Hoofd Regent Semarang. Istilah hoofd regent ini biasa digunakan adipati yang memiliki posisi sebagai Bupati/Adipati Wadhono, yaitu Bupati/Adipati yang membawahi beberapa Kadipaten. Secara harfiah berarti Kepala Adipati.

Suroadimenggolo V ini memang dikenal sebagai Bupati progressif. Beliau juga merupakan cendekia, ahli sejarah, sekaligus budaya tanah Jawa dan lainnya. Sosok yang cerdas, bahkan jenius, yang mengkhawatirkan kalangan kolonial Belanda, sekaligus mendapat pujian dari tokoh cendekia Inggris; TS Raffles. Sifatnya itu menurun pada anak cucunya, salah satunya Pringgoloyo alias Raden Shaleh.

Pribadi Suroadimenggolo ini melekat pada keturunan dan keluarga dekatnya. Terutama duo Raden Shaleh di tanah Jawa. Raden Shaleh yang ke dua ialah keponakan sekaligus anak angkatnya, yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Saleh Syarif Bestaman atau Raden Saleh Pelukis legendaris.

Pringgoloyo merupakan bangsawan yang berpendidikan tinggi. Ia bahkan disekolahkan di Kalkutta, India oleh ayahnya di usia belasan tahun. Dan di usia itu juga sudah ditunjuk sebagai Bupati di Probolinggo dengan gelar Raden Ario Notodiningrat.

Sifatnya sejalan dengan ayahnya, anti penjajah. Hal inilah yang berakibat tersingkirnya beliau berdua dari posisi puncak kalangan bangsawan. Terlebih setelah ditemukannya bukti persekutuan dengan Pangeran Diponegoro. Ditangkap dalam keadaan siap berperang dan lantang mengakuinya.

Singkatnya, beliau berdua ditawan di atas kapal Perang Pollux, sebelum kemudian dibawa ke Surabaya untuk kemudian dibuang ke Ambon. Beruntung, datang suaka dari Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat, sepupu sekaligus menantu Suroadimenggolo V. 

Karena pengalaman dan kecerdasannya Notodiningrat diangkat sebagai Patih Sultan, dengan gelar Raden Adipati Pringgoloyo. Beliau wafat pada 1272 Hijriah dan dimakamkan di kawasan Asta Tinggi. ( Farhan, Esha )