News Room, Kamis ( 02/04 ) Kabar rencana naiknya harga Liquified Petroleum Gas atau yang biasa disingkat LPG, mulai direspon kalangan ibu-ibu di wilayah Kabupaten Sumenep. Meski masih belum ada kepastian naik, namun banyak warga yang mulai was-was dan mulai merubah pola hidup sehari-hari.
“Sekarang mulai membiasakan diri pakai kayu bakar. Demi penghematan. Dan juga biar tak begitu terkejut ketika memang benar-benar naik nanti,”kata Hj. Ija Jakfar, warga Jalan Barito kampung Lao’ Sok-sok Desa Pandian, pada News Room, Kamis (02/04).
Menurut Ija, dirinya mengaku tidak masalah jika harus membiasakan diri memakai kayu bakar. Namun, masalahnya kenaikan harga LPG nanti dikhawatirkan akan berimbas pada kenaikan harga-harga barang lainnya.
“Ya, masalahnya juga begitu. Apalagi jika LPG yang beratnya 3 kilogram juga naik. Banyak industri kecil yang pakai itu,” tambahnya.
Ibu rumah tangga lain, Nur, warga Jalan Garuda Desa Kebunagung juga melakukan hal yang sama. Dirinya saat ini mulai menggunakan kayu bakar yang memang sengaja dikumpulkannya sejak jauh-jauh hari.
“Diselingi Mas. Tapi nanti kalau sudah memang benar-benar naik, kemungkinan pakai kayu bakar terus,”katanya, siang tadi.
Di sekitar rumah Nur memang masih banyak kawasan bukit dan hutan kecil dekat lapangan tembak, Desa Pamolokan. Beberapa ibu-ibu di sana terbiasa mengumpulkan ranting-ranting kering. Namun, karena musim hujan, banyak ranting-ranting yang berguguran itu basah.
Sementara di kepulauan Masalembu, kebanyakan warga setempat memang masih memakai cara tradisional. “Di sini meski masih belum naik harga LPG sudah mahal. Apalagi nanti kalau sudah benar-benar naik,”kata Arbaena warga kampung Raas Desa Sukajeruk pada media ini, via ponsel siang tadi.
Seperti yang diketahui, saat ini pemerintah pusat berencana menaikkan harga LPG jenis, karena subsidinya akan dicabut. Saat ini di Sumenep harga satu tabung LPG berat 3 kilogram sekitar Rp. 17.000,00 hingga Rp. 18.500,00. Sedangkan satu tabung ukuran 12 kilogram harganya Rp. 145.000,00. ( Farhan, Esha )