Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 18-09-2013
  • 580 Kali

Serapan Tembakau Sumenep Masih Minim

News Room, Rabu ( 18/09 ) Selama 2 hari sejak tanggal 16 hingga 17 September 2013 kemarin, yang merupakan dimulainya pembelian tembakau atau “buka gudang” oleh perwakilan PT. Gudang Garam Kediri, di Desa Geddungan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, serapan tembakau Kabupaten setempat masih minim. Sesuai data di perwakilan PT. Gudang Garam Kediri, di Sumenep itu menunjukkan bahwa jumlah serapan tembakau hingga Selasa (17/09) kemarin, baru mencapai 39 ton. Sedangkan, target pembelian tembakau rajangan tahun ini sebanyak 1.600 ton. Wakil Kuasa Pembelian Tembakau PT. Gudang Garam Kediri di Desa Geddungan, Kecamatan Batuan, Freddy Kustianto menjelaskan, jumlah pembelian tembakau rajangan 2 hari terakhir ini sudah 39 ton. Namun, serapan terbesar adalah tembakau dari luar Kabupaten Sumenep. “Dari 39 ton tembakau yang masuk ke PT. Gudang Garam di Sumenep, baru 40 persen saja yang merupakan hasil tanaman tembakau dari wilayah setempat, yakni berasal dari Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, dan Desa Mandala, Kecamatan Rubaru. Sedangkan 60 persen sisanya adalah tembakau dari luar Sumenep, yakni wilayah Sotaber, Pamekasan,”tuturnya. Minimnya serapan tembakau Sumenep itu, lanjut Freddy, diduga produksi tembakau pada panen perdana ini sedikit. “Kita kan tahu pada bulan Juni hingga Juli 2013, Sumenep masih dilanda hujan. Kemungkinan besar, banyak tanaman tembakau yang mati, sehingga berpengaruh pada jumlah panen perdananya,”terangnya. Freddy memperkirakan, puncak tembakau ini akan terjadi pada panen kedua, yakni bulan Oktober 2013 nanti. “Petani banyak yang tanam tembakau pada bulan Juli, dan akan panen pada Oktober mendatang. Mudah-mudahan sampai Oktober nanti tidak turun hujan, supaya seluruh tembakau di Sumenep terserap oleh pabrikan,”ujarnya. Sementara, untuk harga beli tembakau diawal gudang buka ini berkisar antara Rp. 20.000,00 hingga R. 36.000,00 per-kilogram. “Harganya sangat tinggi. Ini sudah hukum ekonomi, disaat produksi tembakau menurun, maka harganya melonjak,”ungkapnya. ( Nita, Esha )