News Room, Jumat ( 08/05 ) Potensi membatik ternyata tidak hanya ditekuni oleh pengrajin batik seperti di Kecamatan Bluto, Pragaan dan Kecamatan lainnya di Sumenep. Namun, kerajinan membatik juga mulai dilirik oleh para siswa di SMPN I Arjasa dan menjadikan keterampilan membatik sebagai kegiatan ektrakulikuler di sekolah tersebut.
Kepala SMPN I Arjasa, Drs. Suryoadi mengungkapkan, hasil karya batik dari siswa-siswinya sudah cukup banyak dan layak untuk dijual. Sebab, dalam menghasilkan karya membatik, siswanya dibimbing khusus salah seorang guru pembimbing bidang seni dan budaya di sekolah tersebut.
“Syukurlah dengan bimbingan dan ketelatenan guru bidang seni dan budaya tersebut, para siswa bisa menghasilkan batik yang memiliki corak dan khas tersendiri,”ungkapnya.
Meskipun diakui, dengan keterbatasan waktu untuk membimbing siswanya membatik namun karena keuletan dan semangat siswanya dalam belajar membatik, menjadikan hasil karyanya tidak bisa dilihat sebelah mata. Karena rata-rata hasilnya sudah layak jual di pasaran.
Terbukti, daari hasil membatik siswanya yang medianya mengguakan kain ukuran sapu tangan kecil, dalam sebulan bisa menghasilkan sekitar 160 lembar batik ukuran sapu tangan. Dan yang membanggakan, bahan bakunya merupakan patungan dari siswa sendiri, karena sekolah tidak memiliki anggaran khusus untuk itu.
“Namun, siswa dengan semangat untuk berkarya, bahkan menjajakan sendiri hasil karyanya yang dijual secara langsung ke masyarakat sekitar,”tambahnya.
Suryoadi juga berharap keterampilan yang dimiliki siswa tersebut bisa terus dikembangkan dan tidak hanya putus setelah lulus SMPN, namun bisa terus menjadikan home industri di rumah, sehingga mampu terus berkarya dan menghasilkan ekonomi bahkan bisa dijadikan sumber penghasilan nantinya. ( Ren, Esha )