News Room, Selasa ( 14/06 ) Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Sumenep memberikan pelajaran pendidikan karakter dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) pada penerimaan siswa baru tahun ini. Kepala RSBI SMAN I Sumenep, Moh. Sadik, S.Pd, Selasa (14/06) mengatakan, pihaknya pada masa orientasi siswa secara implisit, memang tidak memprogramkan pendidikan Pancasila, namun pihaknya mengagendakan pendidikan karakter bangsa yang erat hubunggnya dengan budi pekerti, kepribadian dan kebangsaan. Dalam materi pendidikan karakter bangsa yang dilakukan selama masa orientasi siswa, masih erat kaitannya dengan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. ”Kami menjadwalkan pendidikan karakter bangsa pada masa orientasi siswa selama 2 jam, dan dilaksanakan hari pertama kegiatan masa orientasi siswa. Jadi, pendidikan karakter bangsa ini, sejatinya sangat terkait dengan pendidikan Pancasila,”tegasnya. Moh. Sadik menyatakan, pihaknya tidak mempersoalkan pendidikan Pancasila bergabung dengan pendidikan kewarganegaraan, sebab pihaknya menilai bukan masalah pemisahan pendidikan Pancasila dengan pendidikan kewarganegaraaan. Namun yang terpenting, bagaimana lembaga dan pelaku pendidikan, bisa menanamkan nilai-nilai Pancasila dan mengajak siswa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pihak sekolah harus membudayakan impelemtasi nilai-nilai pancasila dalam lembaganya. ”Kami menilai, sebenarnya apapun namanya, apakah pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila, yang terpenting bukan penanamaan ilmunya, tapi implementasi ilmu-ilmu tersebut dalam membentuk karakter dan prilaku siswa, sehingga meski kurikulum pendidkan Pancasila berdiri sendiri, terpiash dengan pendidikan kewarganegaraan, jika lembaga pendidikan kurang memperhatikan implementasinya, sama saja tidak ada perubahan, hanya kulit sampulnya saja yang berubah,”ungkapnya. Moh. Sadik menyatakan, pihaknya tidak ada rencana untuk menambah jam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, terutama untuk pendidikan Pancasila, sebab jam mata pelajaran tersebut sudah cukup dalam seminggu 2 jam. ”Yang terpenting bagi kami, yakni implementasi nilai-nilai keilmuan Pancasila dalam keseharian siswa,”tambah Moh. Sadik. ( Yasik, Esha )