News Room, Sabtu (08/11) Hampir selesainya jembatan penghubung Surabaya-Madura (Suramadu), membuat Badan Eksekutif Mahasiwa Fakultas Hukum (BEM FH) Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep mengambil sikap sejak dini, untuk mengatasi masa depan nasib para petani. “Sudah saatnya mahasiswa memikirkan nasib petani yang selama ini kurang di anak emas-kan, apalagi pasca jembatan Suramadu,†kata Ketua BEM FH Unija Sumenep, Lukman Hakim, ketika ditemui disela-sela seminar pertanian dan perekonomian daerah, yang bertajuk masa depan petani menyongsong industrialisasi Madura, di salah satu hotel Sumenep, Sabtu (08/11). Ia menjelaskan, persoalan yang dihadapi petani itu merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun para mahasiswa untuk mencari solusinya. “Makanya kami sengaja tidak melibatkan petani dalam seminar ini, tapi hanya melibatkan kalangan terpelajar. Sebab, yang dibicarakan dalam forum itu menyangkut kajian intensif, mengenai masa depan petani,†terangnya. Menurutnya, petani madura masih berkutat dalam sebuah produsen pertanian, yakni menguasai lahan sempit dengan orientasi produksi mencukupi kebutuhan keluarga. “Pemikiran itu yang harus dihilangkan dan mengangkat para petani, untuk tidak sekedar menjadi petani kacangan, tapi menjadi petani tangguh dan handal, dengan mampu menghasilkan produksi berlimpah,†ujarnya. Lukman menambahkan, tujuan seminar ini, memang untuk memberikan pencerahan pada petani, supaya hasilnya nanti tidak hanya mencukup kebutuhan keluarganya sendiri, tapi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat luas, sehingga bisa memberikan hasil bagi petani sendiri. Hadir dalam kesempatan itu sebagai nara sumber, yakni Dr. Achsanul Qosasih, aktivis himpunan kelompok tani Indonesia (HKTI) pusat, dan Arfinsyah Hafid Anwari, Dosen program agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Wiraraja Sumenep.(Nita,Esha)