News Room, Selasa ( 16/06 ) Persoalan mahalnya tarif listrik di Kecamatan Masalembu, yang sebelumnya dikeluhkan oleh masyarakat setempat, rupanya terhitung sejak pembayaran rekening bulan Mei 2009 lalu sudah dilakukan penurunan oleh pihak pengelola, yakni CV. Angkasa Perkasa. Hal tersebut diakui salah seorang pelanggan listrik, Ainal Kharim ketika dikonfirmasi via telepon selulernya tadi siang. Menurutnya, harapan masyarakat pelanggan listrik di Masalembu sudah tidak bermasalah, apalagi setelah dilakukan musyawarah antara pelanggan dan pihak pengelola, agar dilakukan penurunan tarif listrik. “Pada dasarnya kami semua sudah menerima dengan penurunan yang diberikan pengelola saat ini, terkait dengan tingginya tarif, sebenarnya tergantung para pengguna sendiri,â€Âujar Ainal Kharim. Bahkan diakui, pada pembayaran bulan Mei 2009 lalu sudah mengalami penurunan dari bulan-bulan sebelumnya, yakni sebesar Rp. 175.000,00, sedangkan sebelumnya biasanya diatas Rp. 200.000,00. Guru ngaji yang juga guru MI ini mengaku malah bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari penerangan listrik, dengan kapasitar 2 amper sudah bisa membuat es di kulkas, yang bisa dijual kepada siswanya. Sementara Manager Operasional CV. Angkasa Perkasa, S. Untung ketika ditemui sejumlah wartawan pada salah satu acara di Sumenep, Selasa (16/06) mengungkapkan, sebenarnya jika masih ada yang mempersoalkan tarif listrik yang dikelolanya, jelas memiliki tendensi lain. Sebab dari sebanyak 363 pelanggan tidak ada yang komplain terhadap tarif yang diberlakukan di Kecamatan Masalembu. Sebab, tarif yang diberlakukan selama ini tentu tidak dapat dibandingkan dengan tarif dari PLN yang disubsidi Pemerintah. Sementara pihaknya penggunakan solar yang harganya per-liter bisa mencapai Rp. 6.000,00 di Masalembu. “Soal mahalnya tarif itu disesuaikan dengan penggunaan masing-masing pelanggan, padahal kami memberlakukan maksimal Rp. 330.000,00 untuk kapasitas 4 amper, bahkan terendah ada yang hanya Rp. 55.000,00 untuk kapasitas 2 amper,â€Âujar Untung. Dijelaskan, bagi pelanggan yang dikenakan biaya terbesar hingga Rp. 330.000 itu karena memang banyak penggunaan voltasenya. Sebab, para pelanggan biasanya mengalirkan lagi ke tetangga dekatnya hingga sekitar 4-7 rumah. Jadi ketika tarifnya mencapai maksimal, bisa-bisa malah mereka mendapat keuntungan dengan menarik biaya kepada tetangganya yang dialiri listrik. Meskipun sebenarnya itu dilarang, namun tegas Untung pihaknya masih memberikan toleransi kepada elanggan sebanyak-banyaknya dialirkan kepada 4 rumah saja. Dan itupun harus sepengetahuan pengelola, karena penggunaan kabel yang dialirkan tetap harus memenuhi standar kapasitas. Sebab jika tidak akan membahayakan pelanggan sendiri. ( Ren,Esha )