News Room, Jumat ( 26/12 ) Ritual Cahe yang biasa dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Kebundadap Kecamatan Saronggi dan sekitarnya, mendapat perhatian khusus dari kalangan pencinta budaya leluhur di Sumenep. Sebab, disamping banyak kontroversi dikalangan masyarakat sendiri, juga ternyata memiliki banyak ritual yang sulit dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui, dan bukan keturunan dari orang-orang yang melakukan secara turun temurun dari nenek moyangnya. Bahkan ada mahasiswa yang melakukan penelitian pelaksanaan ritual Cahe untuk bahan skripsinya. Seperti yang dilakukan, Elfa Arizona, salah seorang lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP PGRI Sumenep tahun lalu. Elfa mengaku memerlukan waktu dan pengorbanan tidak sedikit untuk mengungkap ritual Cahe. Sebab, disamping lokasi pelaksanaan ritual Cahe yang berada cukup jauh dari pemukiman, tepatnya di Goa Kandhalia, yang masuk perbatasan dengan Desa Langsar, juga tidak mudah mengorek keterangan dari pewaris Cahe ini. “Berkat dorongan dari pembimbing dan beberapa teman teater, saya terus berusaha mengorek keterangan dari mereka. Syukurlah, dengan pendekatan yang baik, dan tidak putus asa untuk selalu mendapat keterangan yang berarti sebagai bahan tulisan,â€Âujar Elfa. Diakui gadis berjilbab ini, jika pewaris Cahe ternyata memiliki gelar-gelar yang hanya golongan mereka sendiri yang mengetahui kedudukan dan tugas yang dilakukan dalam pelaksanaan ritual Cahe. Misalnya saja mulai dari Gelar, Tampa Karsa (TK), Opas Parenta (OP), Kalebun Cahe, (KCH), Apel (AP), Jaragan Poji (JP), Kepala Perang (KP), Rama Kodri Kathebel (RKK), hingga dua belas tingkat gelar yang terakhir Bekkel Tokang Potos (BTP). Yang jelas tegas Elfa, bisa dikatakan cukup rumit jika dibandingkan dengan ritual Nyadhar di Desa Kebundadap Barat Kecamatan Saronggi. Namun, dirinya merasa bangga ketika menyelami sungguh-sungguh ritual Cahe, bahkan dia mengaku sampai masuk ke dalam gua yang cukup sempit, namun di dalamnya ada ruangan khusus ritual. Dari hasil skripsinya yang ternyata banyak dinilai bagus oleh kalangan Dosen, Elfa punya keinginan untuk menjadikan Budaya Rirual Cahe ke dalam bukunya. Dia berharap ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkan buku ritual Cahe ini, agar menambah perbendaharaan buku sejarah, khususnya di Sumenep. ( Ren, Esha )