News Room, Rabu ( 07/12 ) Buntut tuntutan siswa PGRI Sumenep, agar Kepala Sekolahnya, Assary diberhentikan karena diduga kuat melakukan perselingkuhan dengan salah satu guru setempat tak digubris, membuat sebagian besar siswa kelas XI dan XII memilih mogok sekolah. Bahkan tidak ikut ujian semester, dan mereka hanya duduk-duduk bergerombol di depan sekolah. Salah satu siswa SMA PGRI, Maimunah menjelaskan, sebelum tuntutan para siswa dikabulkan, aksi mogok sekolah akan terus dilanjutkan. “Kami rela tidak mengikuti ujian, karena tuntutan belum dipenuhi. Tuntutan kami hanya satu. Kepala sekolah dan guru yang sudah selingkuh, harus dikeluarkan. Kami tidak mau lembaga pendidikan ini tercoreng akibat ulah perselingkuhan mereka,” kata Maimunah. Menurut Maimunah, para siswa yang mogok mengikuti ujian semester, sebagian besar kelas 2 dan 3. “Untuk kelas 1 masih bertahan di sekolah. Yang mogok sekolah hanya kelas 2 dan 3,” ujarnya. Namun sayang, ketika pihak sekolah akan dikonfirmasi, sejumlah wartawan justru dilarang memasuki sekolah, dengan dalih tengah berlangsung ujian. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Ahmad Masuni berjanji akan memanggil Kepala SMA PGRI. Sedangkan terkait aksi mogok belajar sebagian siswa, Masuni mengaku akan turun langsung ke lokasi. “Kami akan cek ke sekolah tersebut. Kasus dan tuntutan siswa akan kami pelajari dulu,” ungkapnya, ketika dihubungi melalui telepon genggamnya, Rabu (07/12). Sebelumnya, sekitar 300 siswa SMA PGRI Sumenep, Selasa (06/12) kemarin menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menuding kepala sekolah, Assary dan salah satu guru sekolah tersebut, berinisial DN, sudah melakukan perselingkuhan. Para siswa menuntut agar dua orang yang diduga berselingkuh, segera diberhentikan. ( Nita, Fery )