Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 22-05-2013
  • 474 Kali

Upaya Tutor Dan Pendamping Beri Semngat Anak Putus Sekolah

News Room, Kamis ( 25/05 ) Membimbing anak yang sudah lama maupun sebagian baru putus sekolah dan kemudian sudah terjun kedunia kerja, memang tidak semudah yang dibayangkan. Untuk mengajak mereka belajar dan menyukai pelajaran tentu tidak semudah anak atau adik kita untuk belajar. Namun, 15 orang pendamping Program Pengurangan Pekerja Anak Program Keluarga Harapan (P2A-PKH), harus melakukannya dengan penuh ketelatenan dan tidak mudah bosan untuk mencari celah agar anak menjadi penurut dan memiliki semangat untuk belajar. Seperti halnya yang diakui salah seorang pendamping P2A-PKH di Sumenep, Ahmad Nurcholis kepada News Room disela-sela mendampingi anak-anak putus sekolah yang dibina di Balai Latihan Kerja Sumenep. Menurutnya, mendampingi mereka harus dilakukan dengan penuh kasih dan sayang. “Dan selama berkumpul disini, mereka sangat buth perhtian lebih, karena keseharian mereka sudah terbiasa tidak sekolah dan bekerja membantu orang tuanya,”ujarnya. Dijelaskan, setiap hari para pendamping harus telaten untuk mengingatkan mereka memakai seragam yang sudah disiapkan, membawa alat tulis dan semacamnya. Yang sebenarnya sudah lama tidak mereka lakukan dirumah. Hal yang sama juga diakui Sholehodin, salah seorang tutor program P2A-PKH tersebut. Menurutnya, disamping memberikan pembelajaran, para tutor juga harus menyelami jiwa dan keadaan anak seperti apa, sehingga dengan mengerti sifat, karakter dan keinginan anak, para pendamping dan tutor akan lebih mudah dalam memotivasi mereka tidak lagi malas untuk belajar dan melaksanakan kegiatan pembelajaran maupun bentuk keterampilan yang disajikan. “Sebab, kesehariannya mereka masih berpikir persoalan ekonomi mereka yang selama ini menjadi faktor penyebab mereka putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja,”tambahnya. Jadi, itu merupakan tantangan dan upaya dari para pendamping dan tutor bagaimana menghilangkan rasa malas belajar, serta tidak banyak berpikir persoalan nasib ekonomi keluarga dan sebagainya. Namun, bagaimana mereka berpikir dan punya keinginan untuk terus belajar untuk memperbaiki hidupnya dimasa depan. ( Ren, Esha )