News Room, Kamis ( 05/05 ) Pengusaha kopra akhir-akhir ini di Kabupaten Sumenep mulai menggeliat dan banyak bermunculan, tidak hanya dalam skala besar, namun pengrajin kopra rumahan malah semakin menjadi kegiatan baru bagi petani yang saat ini lagi lesu-lesunya dengan hasil pertanian yang tidak menentu. Salah seorang pengrajin kopra, Juhari (41) warga Desa Batu Bella Barat Kecamatan Dasuk, mengaku sudah menekuni kerajinan kopra sejak setahun lalu. Meskipun secara hitung dagang hasilnya tidak seberapa, namun untuk bertahan hidup dan terus menjalani usaha bagi Juhari dinilai cukup. “Mudah-mudahan harga kopra bisa semakin bagus, karena sementara ini potensi kelapa yang ada hanya kopra menjadi pilihan petani,”ujarnya. Meskipun enggan mengkalkulasi keuntungan setiap hari maupun setiap kali melakukan penjualan kopra yang dihasilkan bersama 4 pekerjanya yang juga masih familinya sendiri, Juhari mengaku sudah puas bisa memberikan aktifitas kepada keluarganya. Hitung-hitung daripada menganggur dan berharap hasil pertanian yang saat ini kurang baik, membuatnya memutar otak untuk mengikuti jejak kenalannya yang menggeluti perdagangan kopra dan menjualnya ke pabrikan di Surabaya. Hasilnya, memang terbilang tipis dari modal yang dikeluarkan. Untuk harga kelapanya saja rata-rata Rp. 2.000,00/buah dan dari sekitar 4 hingga 5 buah bisa menghasilkan kopra seberat 1 kilogram. Sementara harga jualnya 1 kilogram hanya berkisar Rp. 8.000,00 hingga Rp. 8.500,00 kepada pedagang. Dijelaskan, pembuatan kopra memang terkesan simple karena hanya membelah batok kelapa dan mengeringkannya. Proses pengeringan bisa 2-3 hari tergantung cuaca apabila dijemur. Namun, jika mendung biasanya dapat pula dengan dilakukan pengasapan dan pengopenan untuk mempercepat proses pengeringan. Sebenarnya tegas Juhari, apabila memiliki modal yang cukup besar besar pula hasil yang didapat. Karena dengan modal besar bisa membeli kelapa dapam bentuk borongan, sehingga harga bisa miring. Disamping itu, penjualannya jika langsung ke pabrikan jelas lebih tinggi dibandingnya kepada tengkulak yang masih menjual kembali ke gudang. “Karena itu, kami berharap bantuan pemerintah maupun pengusaha yang akan menanamkan modal untuk usaha kopranya sangat diharapkan untuk perkembangan usaha selanjutnya,”pungkasnya. ( Ren, Esha )