Media Center, Selasa ( 24/07 ) Di musim kemarau tahun 2018, wilayah Kecamatan kepulauan di Sumenep, Madura, Jawa Timur, sudah bebas dari kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Dr. Abd. Rahman Riadi mengatakan, pada musim kemarau sebelumnya, di wilayah kepulauan masih ada daerah terdampak kekeringan, yaitu di Kecamatan Nonggunong dan Gayam di Pulau Sapudi.
“Tapi karena pada tahun 2017 sudah dilakukan pipanisasi dan pengeboran air bersih, maka daerah tersebut sekarang sudah tidak masuk rawan kekeringan. Kalau dulu kering langka, sekarang sudah teraliri air,” ujarnya, Selasa (24/07).
Ia menuturkan, secara umum, cakupan daerah rawan kekeringan tahun ini juga sudah berkurang. Dari sebelumnya tersebar di 37 Desa, menjadi 27 Desa. Dari 27 Desa terdampak kekeringan, 10 Desa dikategorikan kering kritis, dan 17 Desa lainnya kering langka. Semuanya tersebar di 10 Kecamatan, di antaranya di Kecamatan Pasongsongan, Batuputih, dan Rubaru.
Menurut dia, sejauh ini BPBD Kabupaten Sumenep telah melakukan langkah-langkah dalam rangka menanggulangi bencana kekeringan, yaitu melakukan suplai air bersih. Khususnya, ke daerah-daerah kering kritis, seperti Prancak, Montorna, Lebbeng, Basoka, Batuputih Daya, dan Bulla’an.
“Itu solusi jangka pendek. Sementara untuk jangka menengah dan panjang, kami sudah berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait," ungkapnya.
Khusus berkenaan dengan upaya mengatasi kekeringan di daerah yang memiliki potensi air, dilakukan dengan cara pipanisasi dan pengeboran. "Termasuk penyediaan tandon di daerah kering kritis,” pungkasnya. ( Nita, Esha )