Media Center, Kamis (16/07) Kecamatan Rubaru berada di sebelah
barat daya Sumenep. Jaraknya sekira 16 hingga 17 kilometer dari pusat
kabupaten. Kecamatan ini membawahi 11 desa, mulai dari Basoka, Mandala,
Karangnangka, Pakondang, Matanair, Tambaksari, Banasare, Bunbarat, Kalebengan,
Rubaru, dan Duko.
Nama Rubaru kemungkinan berasal dari baru (waru), yaitu nama
salah satu jenis pohon. Menurut sumber Wikipedia, pohon ini dikenal sebagai
pohon peneduh tepi jalan atau tepi sungai dan pematang serta pantai. Walaupun
tajuknya tidak terlalu rimbun, baru atau waru disukai karena akarnya tidak
dalam sehingga tidak merusak jalan dan bangunan di sekitarnya.
Bahasa Madura memang dikenal tidak menggunakan huruf “w”
kecuali sebagai pelancar. Sehingga waru dilafalkan baru. Contoh lainnya, kata
sawah dilafalkan saba, bawah dilafalkan baba, dan lain sebagainya.
Sementara Rubaru merupakan bentuk reduplikasi atau
pengulangan kata dari baru. Karekteristik reduplikasi Bahasa Madura memang mengambil
penggalan kata akhir, sehingga pengulangan kata baru-baru disebut dengan
ru-baru. Diduga kuat, di kawasan ini pada masa lampau terdapat banyak pohon
baru (waru). Sementara kisah lain atau folklore setempat terkait dengan alasan
penamaan lainnya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
BANASARE
Banasare sering disebut dan diceritakan dalam beberapa
literatur kuna tentang Sumenep di masa lampau. Kawasan ini merupakan salah satu
pusat pemerintahan Keraton Sumenep di abad 14. Wilayah yang dikenal dengan
sebutan Keraton Banasare. Saat itu, di Jawa berdiri kerajaan Majapahit yang
diperintah oleh Wikramawardana, keponakan sekaligus menantu Raja Hayam Wuruk.
Kata Banasare berasal dari Wanasari, perpaduan dari kata
wana dan sari. Wana bermakna hutan, dan sari berarti pusat atau inti.
Menurut salah satu tokoh masyarakat di Banasare Fathorrahman, dahulu kala
kawasan ini dikenal dengan banyaknya pohon yang rindang dan teduh, sehingga
membuat nyaman orang saat singgah atau sekadar beranjangsana.
“Bahkan Raja Sumenep waktu itu, Jokotole, dikenal juga senang dengan
keasrian kawasan ini, sehingga kemudian dijadikan nama tempat atau wilayah. Nama
yang ditetapkan kemudian ialah Wanasari yang dalam lidah Madura, Banasare,”
ujarnya kepada Media Center beberapa waktu lalu.
Bersambung.
(Han)