News Room, Selasa ( 23/02 ) Salah satu cabang dalam Paramasastra Madura adalah bab diftong. Yang dimaksud dengan diftong di dalam bahasa Madura ialah bunyi rangkap yang dilambangkan dengan dua huruf (vokal dengan konsonan pelancar) seperti /ay/, /oy/, dan /uy/.
"Seperti kata songay, tapay, rantay, anggay, balay, pennay. Juga kata soroy, toroy, kompoy, tamoy, aloy, disamping kata galuy, kerbuy, baruy, kendhuy, angguy dan lain sebagainya," kata salah satu pemerhati bahasa Madura di Sumenep, Rabiatul Adawiyah, S.Pd., pada Media Center.
Disamping itu juga, menurut Rabiatul, diterangkan juga bahwa yang dimaksud diftong ini adalah, vokal rangkap seperti /ai/, /oi/, /ui/ di dalam bahasa Madura tidak digunakan. Karena vokal /i/ tetap dibaca sebagaimana mestinya. "Contohnya seperti kata ebalai harus dibaca e-ba-la-i , bukan e-ba-lai. Kata ejagai harus dibaca e-ja-ga-i, bukan e-ja-gai. Egulai harus dibaca e-gu-la-i, bukai e-gu-lai. Epagibai harus dibaca e-pa-gi-ba-i, bukan e-pa-gi-bai, dan semacamnya," tambah ibu tiga anak ini.
Oleh karenanya, menurut salah satu guru Matematika di SMPN 1 Saronggi yang mendapat tugas tambahan mengajar materi bahasa Madura ini, apabila menjumpai konsonan penutup /y/ yang diganti dengan vokal /i/ dalam bahasa Madura akan kehilangan maknanya. "Karena sekali lagi vokal /i/ tetap dibaca sebagaimana mestinya. Ketika menulis kata songayya misalnya, tidak bisa ditulis songaiia atau songaia," tutupnya. ( Farhan, Esha )